
Dua istilah yang keduanya dibenarkan. Silaturahmi diucapkan kepada seseorang yang bukan dari keluarga kandung, ucapan ini untuk teman, sahabat, kenalan, tetangga, dan lainnya. Sedangkan silaturahim ucapan untuk hubungan persaudaraan kepada ibu, bapak, kakek, nenek dan lainnya.
Di Indonesia, tradisi silaturahmi dilakukan dengan saling mengunjungi antar teman, keluarga, kerabat, ataupun tetangga seraya saling memaafkan ke salah satu sama lain.
Silaturahmi saat lebaran Idul Fitri sebenarnya tidak dijelaskan secara khusus dalam Al-Qur'an atau hadits. Dalam hadits memang banyak digarisbawahi pentingnya silaturahmi, tetapi tidak berhubungan dengan perayaan Idul Fitri.
Silaturahmi hakikatnya tidak selalu harus dilakukan saat lebaran Idul Fitri. Namun, Idul Fitri di beberapa negara dijadikan sebagai hari libur nasional sehingga momen inilah bisa digunakan oleh umat muslim untuk menjalin silaturahmi dan mengunjungi kerabat satu sama lain.
Arti Silaturrahim dan Silaturrahmi
Silaturahim terdiri dari dua kata shilah dan ar rahim. Shilah artinya menyambung. Dalam Mu’jam Lughatil Fuqaha disebutkan:
“ shilah adalah isim mashdar. Washala asy syai’u bisy syai’i artinya: menggabungkan ini dengan itu dan mengumpulkannya bersama” (dinukil dari Shilatul Arham, 5).
Sedangkan ar rahim yang dimaksud di sini adalah rahim wanita, yang merupakan konotasi untuk menyebutkan karib-kerabat. Ar Raghib Al Asfahani mengatakan:
“ar rahim yang dimaksud adalah rahim wanita, yaitu tempat di mana janin berkembang dan terlindungi (dalam perut wanita). Dan istilah ar rahim digunakan untuk menyebutkan karib-kerabat, karena mereka berasal dari satu rahim” (dinukil dari Ruhul Ma’ani, 9/142).
Silaturahmi dan silaturahim merupakan serapan kata yang berasal dari bahasa arab yaitu Shillah Ar-Rahim. Kata silaturahmi telah diserap ke dalam KBBI yang artinya tali persaudaraan. Maka dari itu, sebagai orang Indonesia disarankan untuk memakai kata silaturahmi yang maknanya sudah dikembalikan menjadi bahasa Indonesia.
Maka yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan dengan para karib-kerabat. An Nawawi rahimahullah menjelaskan:
adapun silaturahim, ia adalah berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan cara lainnya” (Syarh Shahih Muslim, 2/201).
Ibnu Atsir menjelaskan:
“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturahim. Silaturahim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan, serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua” (An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5).
Terkait substansi silaturahim ini, Muhammad Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an: Peran dan Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan, 1999: 317) mengungkapkan Sabda Nabi Muhammad. Rasulullah saw bersabda:
Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwwashil ‘an tashil man qatha’ak (Hadits Riwayat Bukhari).
Artinya: Bukanlah bersilaturahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambung apa yang putus (HR Bukhari).
Dari Sabda Nabi Muhammad tersebut, jelas termaktub bahwa silaturahim menyambung apa yang telah putus dalam hubungan hablum minannas. Manusia tidak terlepas dari dosa maupun kesalahan sehingga menyebabkan putusnya hubungan. Di titik inilah silaturahim mempunyai peran penting dalam menyambung kembali apa-apa yang telah putus tersebut.
Lebaran merupakan momen yang paling tepat jika di hari-hari lain belum mampu menyambungkan apa yang telah putus. Energi kembali ke fitri turut mendorong manusia untuk berlomba-lomba mengembalikan jiwanya pada kesucian. Idul Fitri-lah yang mampu melakukannya.
Meskipun disadari, silaturahim sesungguhnya tidak terbatas dilakukan ketika Idul Fitri tiba. Manusia tidak mungkin harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk meyambungkan apa yang telah putus. Hal ini didasarkan bahwa batas umur manusia tidak ada yang tahu. Tentu manusia akan merugi ketika nyawa tidak lagi dikandung badan namun masih menyimpan salah dan dosa kepada orang lain.
Quraish Shihab juga menjelaskan arti silaturahim ditinjau dari sisi bahasa. Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh kata shilat itu. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang sehingga berarti pula peranakan (kandungan). Arti ini mengandung makna bahwa karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.
Salah satu bukti yang paling konkret tentang silaturahim yang berintikan rasa rahmat dan kasih sayang itu adalah pemberian yang tulus. Sebab itu, kata shilat juga diartikan dengan pemberian atau hadiah.
Demikianlah keutamaan dan makna silaturahim saat lebaran yang sering dilaksanakan oleh kaum muslimin di Indonesia. Semoga kita terus menjalin tali silaturahim dan silaturrahmi dengan baik kepada kerabat dan sesama.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Bogor, 22 Maret 2026
Dr. Chazim Maksalina, M.H.