
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Tidak terasa 1 Syawal yang menandai berakhirnya bulan Ramadan dan beralih ke hari kemenangan dengan Idul Fitri 1447 H yang bertepatan 21 Maret 2026 telah terlewati tiga hari yang lalu. Masih dalam suasana berlebaran kita mengharap rida Allah, lebih penting semoga kita lulus dalam memerangi hawa nafsu.
Lebaran tidak bisa lepas dari ketradisian cara mengungkapkannya. Khususnya dalam merayakannya dengan kue dan makanan, di sana akan selalu disuguhi ketupat dan opor.
Ketupat merupakan hidangan ikonik yang sering hadir pada saat Hari Raya Idul Fitri pada 1 Syawal dan Lebaran Ketupat pada 7 Syawal. Ketupat merupakan makanan tradisional khas Indonesia yang berbahan dasar beras dan dimasak dengan cara direbus.
Ketupat memiliki bentuk yang unik dan khas. Di balik bentuknya yang unik, ketupat mempunyai makna filosofis untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan dengan melakukan tradisi sungkeman.
Dilansir dari berbagai sumber, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, yang mengawali tradisi ketupat ini. Sunan yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa itu menggabungkan filosofi, budaya Jawa, dengan prinsip Islam. Di mana prinsip-prinsip Islam dipengaruhi oleh budaya Hindu yang menyebabkan akulturasi budaya antara keduanya. Kita tahu Hindu telah menghegemoni Nusantara ini seribu tahun sampai para wali songo datang menyebarkan Islam dengan cara yang amat bijaksana.
Ketupat berasal dari istilah bahasa Jawa, yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat, (empat tindakan). Tindakan yang dimaksud adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Lebaran diartikan sebagai berakhirnya waktu puasa Ramadan dan siap menyambut hari kemenangan Idul Fitri. Lebaran dari kata lebar yang berarti selesai, maksudnya lebaran bukan hanya kita selesai melaksanakan perintah wajib ibadah puasa dengan melawan hawa nafsu, akan tetapi juga bermakna saling memaafkan kesalahan dan kehilafan antar sesama.
Sedangkan luberan berasal dari kata luber(tumpah, lebih, melimpah, meluap) memiliki makna, kita yang mempunyai rizki yang lebih, untuk berbagi kepada fakir miskin, orang yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.
Adapun leburan , asal Kata lebur memiliki makna menghapus, mencairkan kesalahan dan dosa di antara kita dan kita saling memaafkan satu sama lain.
Yang terakhir adalah laburan, laburan memiliki arti sebagai seorang muslim harus memiliki hati yang jernih dan putih layaknya kapur. Kita memiliki tradisi setiap menghadapi lebaran, rumah kita dilabur dengan adonan kapur putih (zaman kini sudah beralih ke cat tembok) setiap bulan puasa, untuk merayakan lebaran. Makna yang sebenarnya adalah supaya kita melabur diri kita segala dari sifat buruk (mafzmumah) dan mengisi kepada sifat yang terpuji (mahmudah).
Makna 3 Bahan Ketupat
Ketupat terbuat dari tiga bahan utama, yaitu janur kuning, beras, dan santan. Setiap bahan-bahan tersebut juga memiliki filosofi dan makna masing-masing.
Janur kuning yang menjadi salah satu bahan untuk membuat ketupat juga diartikan sebagai penolak bala bagi orang Jawa. Janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani). Sedangkan anyaman ketupat dianggap sebagai bentuk kesalahan-kesalahan yang diperbuat manusia. Namun, ada juga yang mengartikan sebagai lambang kesatuan dan persaudaraan.
Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya. Pada masa lalu, terdapat tradisi unik yang berbau mistis, namun kini sudah jarang ditemukan.
Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunyai makna pangapunten alias permohonan maaf.
Saking dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri, Mangan kupat ngangge santen. Menawi lepat, nyuwun pangapunten (makan ketupat pakai santan. Jika ada kesalahan mohon dimaafkan).
Demikianlah ulasan mengenai apa itu lebaran dan makna ketupat yang mengiringi hari raya Idul Fitri. Setiap daerah tentu memiliki cara masing-masing dalam merayakan lebaran dan membikin hidangan masakan, namun kayaknya ketupat dan opor ayam sudah menjadi tradisi nasional.
Akhirnya, penulis mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1447 H/2026, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang kembali Fitri dan yang memperoleh keberuntungan (minal a'idin wal faizin), Mangan kupat ngangge santen, ngaturaken sedoyo lepat nyuwun pangapunten.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Bogor, 24 Maret 2026
Dr. Chazim Maksalina, M.H.