(0741) 40131 jambipta@gmail.com

GEDUNG PTA OK

Di bulan Ramadan ini, tepatnya pada hari Jum'at kemarin tanggal 6 Maret 2026 bertepatan dengan hari ke enam belas Ramadan, PTA Jambi melaksanakan program sosialnya yaitu pembagian zakat profesi, menyantuni anak yatim, khataman, peringatan Nuzulul Qur'an dan buka bersama, diakhiri sholat tarawih bersama. Program tersebut dilakukan sejalan dengan momen bulan Ramadan sebagai syahru sgodaqah artinya bulan di mana kita sangat dianjurkan selain melaksanakan ibadah puasa juga kita dihimbau untuk memperbanyak sedekah kepada anak yatim, fakir miskin atau kepada orang yang sedang mengalami musibah. Pada bulan puasa memang kita diajak untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama sehingga membentuk kesalehan sosial.

Relevansi Puasa dengan Kesalehan Sosial

Puasa Ramadhan memiliki spiritual multidimensi, baik secara individual maupun sosial.  Kesalehan individual seperti hubungan dirinya dengan Allah swt, atau disebut dengan hablun minallah. Dan kesalehan sosial seperti hubungan manusia dengan sesamanya, atau disebut dengan hablun minannas. 

Puasa yang diwajibkan kepada umat Islam, secara sosiologis, hakikatnya adalah instrumen untuk memberikan kesadaran kebersamaan kepada kita, sehingga kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh fakir miskin. Orang yang berpuasa Ramadhan hendaknya selalu menjalin dan menghidupkan kedua hubungan tersebut. Jangan sampai timpang dengan salah satunya.  

Beribadah dengan Allah secara ikhlas dan khusuk dan membantu saudara sesama manusia juga harus ikhlas dan rendah diri. Karena keimanan dan ketaqwaan akan sempurna jika dibarengi dengan amal shaleh kepada sesama manusia sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Hadid ayat 7, yang artinya: Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar (QS Al-Hadiid: 7).

Karena Ramadhan adalah bulan rahmah (kasih sayang), maka dari ayat di atas, bahwa ibadah sosial yang baik ketika berpuasa adalah berinfak dan sadakah kepada saudara-saudara kita bagi yang membutuhkan, seperti berbagi takjil, sembako, dan sebagainya. 

Dengan sikap sosial yang tinggi, perhatian, atensi, empati, simpati kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya. Maka hatinya senantiasa akan bersih dan peka, sehingga spiritualnya akan selalu naik. 

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits  yang artinya: "Tidak dikatakan beriman,  orang yang perutnya kenyang, sementara tetangganya tidak bisa tidur karena menahan lapar". Rasulullah saw juga bersabda dalam hadits lainnya, yang artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya". 

Dari kedua hadits di atas, maka iman seseorang akan sempurna ketika bersentuhan dengan dua dimensi, individual dan sosial. Dua dimensi tersebutlah yang akan menjadikan manusia senantiasa bertakwa dan terjaga selalu bersama Allah swt. 

Allah swt telah berjanji kepada hambaNya bahwa akan memberikan pahala yang begitu besar bagi orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya Al-Qur'an surat Al Maidah ayat 9, yang artinya: "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal kebajikan bahwa bagi mereka ampunan dan pahala yang banyak" (QS Al-Maidah: 9). 

Puasa mempunyai pengaruh menyeluruh baik kepada semua manusia, secara individu maupun masyarakat. Baik hubungannya kepada Allah ( hablun minallah ), juga hubungan muamalah kita kepada sesama muslim dan makhluk Allah lainnya ( hablun minan-nas ). Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tidak sebatas moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tidak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), akan tetapi juga kesalehan sosial. 

Dari berpuasa kita memiliki dua semangat yang sangat baik. Jika dilihat dari perspektif pendidikan akhlak yakni, pertama, semangat pencegahan ( kaffun wa tarkun ) dari hal-hal yang destruktif ( al-muhlikat ). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual. Kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan ( hatstsun wa `amalun ) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manuisa (hatstsun ila al-munjiyat). Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial. 

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini. Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin. Karena orang yang tidak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain.

Allah swt menjadikan Ramadhan sebagai ladang menjemput berbagai macam pahala, karena Ramadan dihiasi dengan bervariasi amal kebaikan, baik hablun minallah (vertikal) maupun hablun minannas (horizontal), semoga kita mampu mengakhiri bulan latihan Ramadhan tahun ini dengan husnul khatimah (akhir yang terbaik). Juga dengan puasa ini kita bisa meningkatkan kesalehan sosial meraih ridha-Nya.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 9 Maret 2026

Dr. Chazim Maksalina, M.H.